Kentang pada dasarnya tumbuh di bawah tanah. Namun, ketika umbi terpapar cahaya matahari atau cahaya buatan dalam waktu tertentu, sel-sel pada kulit kentang akan memproduksi klorofil. Klorofil inilah yang menyebabkan warna hijau muncul pada permukaan kentang.
Menurut penjelasan University of Alaska Fairbanks (UAF) dan Michigan State University Extension, klorofil sebenarnya tidak berbahaya. Akan tetapi, proses yang menyebabkan pembentukan klorofil sering kali berjalan bersamaan dengan peningkatan senyawa glikoalkaloid seperti solanin dan chaconin.
Kedua senyawa tersebut merupakan mekanisme pertahanan alami tanaman kentang terhadap hama dan penyakit. Dalam jumlah kecil, zat ini memang terdapat secara alami pada kentang. Namun, konsentrasinya dapat meningkat ketika kentang terkena cahaya, mengalami kerusakan fisik, bertunas, atau disimpan dalam kondisi yang tidak tepat.
1. Kentang Kehijauan Mengandung Solanin Lebih Tinggi
Alasan utama mengapa kentang kehijauan sebaiknya tidak dikonsumsi adalah karena kandungan solaninnya cenderung lebih tinggi dibandingkan kentang normal.
Menurut Dr. Andi Early Febrinda dari IPB University, warna hijau pada kentang menjadi salah satu indikator meningkatnya kadar solanin. Senyawa ini termasuk glikoalkaloid yang bersifat toksik bagi manusia jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu.
Peneliti dan pakar keamanan pangan juga menjelaskan bahwa semakin lama kentang terpapar cahaya, semakin besar kemungkinan peningkatan kandungan solanin pada umbi tersebut. Oleh karena itu, kentang yang tampak hijau tidak boleh dianggap sama dengan kentang segar yang masih normal.
2. Dapat Menyebabkan Gangguan Pencernaan
Konsumsi kentang dengan kadar solanin tinggi dapat memicu berbagai gangguan pada saluran pencernaan.
Beberapa gejala yang paling sering dilaporkan antara lain:
Mual Muntah Diare Kram perut Nyeri lambung Sensasi terbakar pada mulut dan tenggorokan
Michigan State University Extension menjelaskan bahwa solanin dan chaconin dapat mengiritasi saluran pencernaan. Gejala biasanya muncul dalam beberapa jam setelah konsumsi, meskipun pada beberapa kasus dapat muncul satu hingga dua hari kemudian.
Meski kasus keracunan berat tergolong jarang, risiko gangguan pencernaan tetap perlu diwaspadai, terutama pada anak-anak dan lansia.