Liputan6.com, Jakarta – Banyak orang beranggapan craving makanan manis, terutama saat stres dan masa PMS, adalah hal yang perlu dihindari karena bisa membuyarkan rencana diet. Padahal, diet yang terlalu ketat malah bisa berdampak sebaliknya pada tubuh.
Ahli gizi Alvina Olivia menerangkan menghilangkan craving makanan manis bukanlah pendekatan yang bijak. Ia lebih merekomendasikan agar seseorang tetap mempertahankan apa yang disukai dan mampu dicapai, lalu memperbaiki pola makan sedikit demi sedikit agar polanya realistis dan konsisten.
“Keinginan untuk mengonsumsi yang manis-manis saat lelah, stres, atau bosan adalah reaksi biologis yang normal dan bukan sekadar khayalan. Secara ilmiah, ketika kita mengonsumsi makanan manis, glukosa dalam darah akan meningkat, memberikan sinyal kepada otak untuk melepaskan hormon dopamin dan endorfin,” kata Behavior-Led Nutrition Coach, Alvina Olivia dalam acara peluncuran Cimory Milk No Added Sugar, Jakarta, Rabu, 26 November 2025.
Advertisement
“Mungkin normalize the craving ya. Kalau memang kita pencinta manis, itu normal, enggak perlu dihilangkan atau dibikin stres. Kalau dihilangkan total, kita bisa enggak konsisten, akan ada titik jenuh, dan craving-nya malah jadi lebih parah. Jadi, mendingan diikutin aja craving manisnya, tapi sesuai dengan porsinya,” imbuh dia.
Mencari pilihan sumber gula yang lebih sehat menjadi kata kunci. Alvina menjelaskan bahwa konsumsi gula alami dalam batas wajar merupakan sumber energi dan peningkat mood. Yang perlu dihindari adalah konsumsi gula tambahan berlebihan karena berisiko kesehatan yang signifikan.