1. Apa yang membedakan soto khas Semarang dengan soto dari daerah lain?
Soto khas Semarang banyak yang memakai kuah bening atau kuah rempah ringan (kadang kecokelatan atau kuning), dengan suwiran ayam kampung atau potongan sapi, tauge atau bihun, dan taburan bawang goreng — cenderung ringan dan pas untuk sarapan, berbeda dengan soto santan atau kuah kental dari daerah lain.
2. Mengapa warung soto lawas di Semarang tetap populer sampai sekarang?
Karena mereka menjaga resep tradisional dan rasa otentik dari generasi ke generasi, harga terjangkau, porsi dan lauk pelengkap beragam, serta konsistensi kualitas yang membuat pelanggan loyal dan terus berdatangan.
3. Apakah ada warung Soto di Semarang yang menawarkan soto sapi, bukan ayam?
Ya — beberapa warung seperti Soto Sapi Pak Bendul, Soto Sapi Lek Jhon, serta warung seperti Putra Pak Ra’an dan Pak Gian menyediakan soto daging sapi, memberikan alternatif bagi penggemar daging selain ayam.
4. Kapan waktu terbaik untuk menikmati soto legendaris di Semarang?
Banyak warung soto buka pagi hingga siang — cocok untuk sarapan atau makan siang — namun sebagian juga buka sampai sore atau malam, sehingga soto tetap bisa dinikmati kapan saja tergantung warung.
5. Apakah harga seporsi soto di warung-warung legendaris ini murah?
Ya — sebagian besar warung membanderol harga terjangkau (sesuai standar makan warung di Jawa), tergantung lauk tambahan dan jenis soto.